Karena sejak awal kisah kita dibiarkan mengalir tanpa sebuah kepastian.
Seperti bentang luas sungai, yang mengalir tenang namun menghanyutkan.
Seperti gelapnya malam, yang menyembunyikan terangnya bintang disana.
Dan kita terhanyut jauh, terombang-ambing oleh arus kebingungan pada gelapnya ego yang menghantui.
Hingga setelahnya, aliran itu membawa kita pada arus yang berbeda.
Hanyutmu dan hanyutku berlawanan, melupakan langit yang senantiasa menjadi saksi perjalanan ini.
Dan pada akhirnya, kita berakhir begitu saja pada kata usai. Bahkan tanpa dimulai sekalipun.
Leave a Reply