Rasa-rasanya diri ini telah merasa cukup sering berterima kasih untuk segala nikmat yang diberikan sang maha pemilik semesta. Ibuku selalu mengajariku tentang pentingnya insan yang sering bersyukur.
“Nak, meskipun hidup kita sedang tidak baik-baik saja, selalu sisipkan rasa syukur dalam hidupmu. Karena orang yang sering bersyukur kelak akan selalu diberikan nikmat yang tiada tara” kata ibu waktu itu.
Namun, kerap kali aku merasakan bahwa setiap kali mengucap rasa syukur selalu bermuara pada hampa.
“Mana bahagia yang katanya singgah setelah syukur terucap?” gumamku dalam hati.
Hingga pada akhirnya aku kembali menemui ibu, maha guruku di bumi ini. Dia kembali menasihatiku sehingga aku tersadar. Bahwa, selama ini aku lebih sering mengucap syukur, alih-alih mengecapnya. Seharusnya aku tau bahwa syukur bukan sekedar diucap, tetapi jauh melibatkan perasaan.
“Karena syukur adalah perihal hati, maka mengecapnya harus dengan nurani” ujar ibuku dengan teh hangat di atas meja.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan agar syukur itu bisa bermakna?” tanyaku.
“Syukur butuh dimaknai sedalam-dalamnya agar syukur tak hanya sebuah kata, melainkan bentuk ungkapan pujian dan lemahnya kita tanpa sang pencipta. Dengan begitu, bahagia akan datang menghampiri kita, nak. Berlipat-lipat ganda.” Jawab ibuku sambil mengusap kepalaku.
Zhinta wulan cahya
X Tjkt 4
Leave a Reply