Kupeluk namamu di dalam sunyi

– Naufal Kukuh

Aku mencintaimu…
bukan dengan kata,
tapi dengan diam yang tak pernah kau baca.
Bukan dengan genggam,
tapi dengan doa yang kupintal dalam sepi tak bernama.

Lalu datang kabar,
bagai hujan lebat di malam yang kelabu,
kau tlah memilih hati lain untuk bersatu,
sementara aku masih di sini,
memeluk bayangmu dalam waktu yang beku.

Aku mencoba untuk lupa,
tapi namamu terlalu pandai bersembunyi
di sela – sela detak dan napas ini.
Semakin kuusir, semakin dalam ia menepi,
mengakar dalam sunyi…
yang tak bisa kutepis,
tak bisa kuhindari.

Kau tertawa bersamanya,
aku menyulam luka dalam senyum yang pura-pura.
Kau berjalan di taman cinta,
aku tenggelam di lorong duka.

Tapi tak apa…
Jika bahagiamu bukan untuk kutatap dari dekat,
biarlah kutatap dari jauh – dengan penuh rasa hormat.
Jika hatimu bukan untuk kutenggelamkan rindu,
biarlah aku menjadi laut,
yang terus mencintaimu, meski tak pernah kau sebut.

Aku tak akan memintamu kembali.
Tidak…
Cinta yang tulus tak pernah meminta,
ia hanya tinggal meski tak punya rumah,
ia hanya diam meski terus dilukai waktu dan arah.

Dan jika esok aku mampu melupa,
itu bukan karena cinta ini sirna,
tapi karena aku telah rela melepasmu,
meski masih kupeluk namamu dalam jiwaku.