Kue Madu Nenek Mirna

Alkisah di sebuah hutan dekat desa kecil, ada sebuah gubuk yang ditempati oleh seorang wanita tua. Wanita tua itu bernama Nenek Mirna. Gubuk Nenek Mirna selalu tercium aroma yang sangat sedap. Tetapi, aroma tersebut yang membuat warga desa ketakutan. Konon katanya, aroma sedap tersebut berasal dari masakan yang berasal dari tubuh mangsanya. Oleh karena itu, semua penduduk desa tak ada yang berani mendekati gubuk Nenek Mirna.
Pada suatu hari Mila, Neni, dan Sani bermain di dekat hutan. Mereka tidak sadar, permainan yang mereka lakukan membawa mereka masuk ke hutan dan mendekati gubuk Nenek Mirna. Saat sedang bermain, mereka mencium aroma kue yang sangat sedap. Kebetulan sekali, perut mereka sudah berteriak meminta makanan. Akhirnya, mereka mencari darimana asal aroma kue yang sedap itu. “Hey lihat, ada sebuah gubuk di sana. Pasti aroma sedapnya berasal dari sana” ujar Mila bersemangat. “Tapi kata ayahku ada penyihir jahat yang suka memakan manusia disini. Ah sudahlah pasti itu hanyalah karangan saja!” Mila dan Neni begitu bersemangat untuk mengetahui asal aroma sedap dari makanan apakah itu. Berbeda dengan Sani, ia sangat penuh pertimbangan. “H-hey t-tunggu dulu. Bukankah kita sebaiknya kita pulang saja? B-bagaimana jika k-kita yang akan d-di mangsa oleh p-p-penyihir itu?” ucap cemas Sani. “Hey kau bukanlah anak yang gagap. Kamu bukan anak 5 tahun lagi, Sani. Mengapa harus setakut itu?” “Iya, lagi pula lebih baik mencoba daripada menyesal tidak mengetahuinya bukan?” tambah Neni ikut mengompori Mila. “Y-ya aku t-tau t-tap” belum sempat Sani melanjutkan kalimatnya, kesabaran Mila sudah hilang. “Sudah lah. Jika kau memang takut kembali saja ke desa. Jangan ajak kami dalam ketakutanmu itu”.
“Hey, lihat! Ada sebuah gubuk di sana! Dan baunya hmm sepertinya berasal dari sana.” seru Neni kegirangan. “Iya! Gubuk itu tidaklah terlihat seram! Lihatlah Sani! Lihat!” Tapi, Mila keheranan karena tak ada sahutan dari Sani. Ia melihat sekeliling dan menemukan Sani sedang bersembunyi di balik pohon besar. Mila dan Neni tebahak-bahak dan menyeret Sani segera menuju gubuk tersebut. Sesampainya di gubuk tersebut, keluarlah seorang nenek yang sedang meletakan kuenya di teras gubuknya. “Pssst…psst…lihat kue disana, ayo kita ambil! bisik Neni kepada kedua temannya. Mila mengangguki ucapan Neni. Berbeda dengan Sani, ia sudah berkeringat dingin. Mengingat pesan ayahnya, hanya ada seorang nenek penyihir yang tinggal di gubuk tengah hutan dan suka membuat kue madu. Sani mengulurkan tangannya, untuk menahan Mila yang sedang menggandeng Neni. “J-j-jangan masuk ke sana…disana adalah tempat tinggal penyihir….” Namun, Mila dan Neni tak menghiraukan imbauan temannya itu.
Sampailah mereka di gubuk nenek itu. “Sepertinya nenek itu sedang tidur, ayo kita ambil diam-diam!” bisik Mila yang diangguki oleh Neni. Jangan tanya bagaiman keadaan Sani pada saat itu. Ia ketakutan setengah mati. Bahkan celananya sedikit basah karena keringat menjadi seperti habis terkena ompol. Tepat pada saat ketiganya akan mengambil kue tersebut, nenek yang ada dalam gubuk itu keluar. “SEDANG APA KALIAN DISINI?!”