Di puncak langit yang megah,
Gunung Merapi tegak berdiri.
Berkisah tentang keindahan alam,
Dalam puisi ini, kuukir kenangan yang abadi.
Merapi, sang penjaga keagungan,
Dengan gemuruhnya, menyapa alam.
Diatas puncaknya, awan berarak,
Seakan mengiringi tarian kehidupan.
Bibirnya yang merah menyala,
Sebuah kehidupan yang tak berkesudahan.
Lahir dan mati, siklus yang terus berputar,
Seperti asa yang tak pernah padam.
Dalam rebahnya, ia berkisah,
Mengalirkan lahar sebagai air mata.
Namun di sela penderitaan yang dalam,
Tersembul harapan akan kehidupan yang baru.
Dalam pelukannya, masyarakat bersemi,
Menjalin kebersamaan di lerengnya.
Merapi, bukan hanya gunung batu,
Tapi penjaga kehidupan dan keajaiban alam.
Gemuruhnya adalah nyanyian alam,
Dalam kebesaran, terdapat keadilan.
Meski merah menyala, ia tak memandang suku,
Gunung Merapi, penjaga keindahan yang agung.
Dalam senja yang meranggas,
Ia menyimpan cerita dalam alur waktu.
Gunung Merapi, pesona yang abadi,
Dalam pelukannya, hidup dan mati saling berdansa.
Leave a Reply