Wasiat

Di sebuah desa terdapat seorang remaja yang bernama Budi. Ia hidup bersama ibunya karena ayahnya telah tiada saat Budi berumur 8 tahun. Ibunya bekerja sebagai penjual bakso keliling, dan Budi merupakan seorang siswa di suatu SMA swasta yang dekat dengan desanya.


Pada saat Budi menduduki kelas 12, ia ingin sekali meneruskan kuliah di luar negeri, namun ibunya tidak sanggup membiayai dirinya kuliah di luar negeri. Karena ia tahu bahwa ibunya tidak sanggup membiayai ia pun belajar dengan giat untuk mengejar mimpinya, yaitu berkuliah di luar negeri dengan beasiswa.


Masa kelulusan pun tiba dan ia mendapat kan rangking satu di kelas. Setelah hari kelulusan ia pun mencoba mendaftar di salah satu universitas di Amerika Serikat. Namun kehendak berkata lain ia tidak diterima di universitas tersebut. Budi pun merasa sangat kecewa terhadap diri nya dan ia pun putus asa, karena apa yang telah ia laksanakan selama ini adalah sia-sia. Ibunya pun mendatangi Budi karena melihat kondisi anakanya yang malang. Ibunya pun menasehati dan memberi tahu bahwa dulunya ia pun pernah merasa putus asa pada saat ia kehilangan orang yang ia cintai yaitu suaminya.


Setelah Budi mendengarkan nasihat dari ibunya ia pun merasa semangat kembali. Budi mencoba mendaftar kembali, tetapi kali ini ia mendaftar ke salah satu universitas terbaik di Inggris. Pada saat menunggu hari pengumuman tiba, ibu Budi jatuh sakit yaitu merasa sakit di dada dan sesak nafas,sehingga Budi harus membantu ibunya berjualan karena ibunya sakit.


Satu minggu kemudian hari yang ditunggu tunggu pun tiba, yaitu pengumuman apakah Budi diterima atau tidak. Hal yang membahagiakan pun datang padanya, karena ia diterima di universitas terbaik di Inggris. Setelah dua minggu ia pun selesai mengurus semua apa yang di butuhkan untuk pergi ke Inggris. Budi pun tidak sabar untuk pergi ke Inggris.


Hari yang menyenangkan dan menyedihkan pun tiba. Ia senang karena mimpinya tercapai yaitu ber kuliah di luar negeri namun ia juga sedih karena ia harus jauh dari orang yang ia sayang yaitu ibunya. Kemudian Budi ber pamitan kepada ibunya, ibu Budi berbicara kepada anak tercinta nya bahwa Budi harus berguna bagi orang lain dan lakukan yang terbaik.


Setelah berpamitan Budi pergi menuju bandara yang berada di tengah kota menggunakan taksi online. Sesaimpainya di bandara Budi sangat senang karena ia belum pernah naik pesawat sebelumnya. Budi pun bertemu dengan teman barunya yang sama sama mendapat kan beasiswa di Inggris dan di satu universitas yang sama. Teman baru Budi bernama Pandji, Budi dan Pandji pun menuju pesawat. Di dalam pesawat Budi dan Pandji saling bertukar cerita dan pengalaman hidup masing masing.


Sesampainya di Inggris Budi memberi tahukan kepada ibunya bahwa ia sudah sampai di Inggris dengan selamat. Ibu Budi pun membalas pesan Budi dan selalu mendoakan yang terbaik untuk anak nya yang tercinta. Budi pun harus berpisah dengan Pandji karena mereka tidak satu asrama. Setelah berpisah Budi pergi menuju ke asrama yang ditujuinya.


Satu minggu kemudian ia mulai berkuliah di kampus yang ia daftar. Hari hari berjalan normal seperti biasanya namun suatu hari ia mendapat kan kabar buruk yang diberikan pamannya bahwa ibunya terkena serangan jantung dan sedang kritis. Setelah mendengar kabar tersebut ia pun shock dan terdiam. Ia pun langsung bergegas mencari tiket dan pulang ke halaman rumah nya untuk menjenguk ibunya.

Ke esokan harinya ia bergegas ke bandara untuk pulang, di dalam pesawat ia sangat cemas terhadap kondisi ibunya. Sesampai nya di bandara ia langsung memesan taksi online menuju ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya. Di rumah sakit ia bertanya kepada orang yang berada di resepsionis dan menanyakan ruangan ibunya. Setelah itu ia menuju ruangan ibunya, sesampainya di dalam ruangan ia bertemu ibunya namun sayang kondisi ibunya sangat kritis. Kemudian ibunya memberikan wasiat kepada Budi ” Nak jika ibu tidak dapat bertahan, ibu mau Budi meneruskan dagangan bakso yang ibu jual.” kata Ibu Budi.” Jangan berbicara seperti itu bu, Ibu pasti bisa bertahan.” Balas Budi.

Setelah perbincangan tersebut tiba tiba terdapat suara pendeteksi detak jantung berbunyi secara terus menerus. Budi pun tak percaya apa yang ia dengar, ia pun menangis secara histeris dan memanggil dokter. Keesokan harinya di depan rumah Budi sudah terdapat bendera putih yang berkibar dan banyak orang orang yang berdatangan untuk ber takziah. Ia sangat sedih dan tak percaya apa yang terjadi dalam hidup nya mengapa banyak sekali cobaan yang menimpanya. Beberapa hari kemudian ia masih merasa sedih dan merasa sangat kesepian. Kemudian ia ter ingat dengan kata kata terakhir yang diucapkan oleh ibunya sebelum ibunya pergi.


Budi memutuskan untuk berhenti kuliah di Inggris, ia ingin melaksanakan wasiat yang diberikan ibunya. Budi memulai berjualaan dengan cara berkeliling mendorong gerobak baksonya. Namun dagangan Budi tak mengasilkan keuntungan sama sekali. Suatu ketika ada seorang pemuda yang membeli bakso dagangan Budi,tak disangka rasa bakso yang di jual oleh Budi memiliki cita rasa yang sangat nikmat. “Pak, baksonya enak sekali.” kata pemuda tersebut. “Terimakasih banyak mas.” balas Budi, kemudian Budi bercerita tentang kondisi dirinya ia menceritakan tentang dagangannya yang tak kunjung laku. Setelah mendengar cerita yang di curahkan Budi pemuda itu pun memberi saran untuk menjual dagangannya di ojek online dan membuat iklan di media sosial. Setelah mendengar kan saran dari pemuda itu Budi langsung mendaftar kan dagangan nya di ojek online dan membuat iklan di sosial media.


Beberapa hari kemudian dagangan Budi di datangi oleh contentcreator dan seketika dagangan Budi menjadi viral dan pesanan yang membludak. Karena pesanan yang terlalu banyak Budi membuka tempat makan yang semula nya hanya gerobakan sekarang menjadi restaurant dan memperkerjakan beberapa pelayan dan chef agar ia tidak kualahan dalam berjualan. Pelanggan terus menerus berdatangan dan terkumpul uang yang cukup untuk membuka cabang, sehingga kini ia sudah memiliki lebih dari 10 cabang di Indonesia. Budi pun telah sukses melaksanakan wasiat ibunya dan kini kehidupan Budi 180 derajat dari kehidupan yang dulu. Dulu Budi serba kekurangan kini, Budi sudah bergelimang kan harta.