Aurel menceritakan jika cerita tersebut merupakan kisah nyata yang dialaminya. Aurel adalah seorang wanita yang sekarang tinggal di kota kecil Jawa Tengah. Ia harus pindah ke kota semarang untuk menuntut ilmu disalah satu Universitas Diponegoro. Saat pindah ke semarang,aurel pergi bersama ayahnya. Ayahnya mengantarkan aurel ke rumah kontrakan yang akan dihuni aurel selama menuntut ilmu disana. Dikontrakan itu,aurel juga tinggal bersama dua orang saudara sepupunya yang juga menuntut ilmu ditempat dan angkatan yang sama dengannya. Saudara tertua bernama arsy dan saudara yang lebih tua dari aurel bernama nadlyne. Aurel merupakan yang paling kecil dari mereka bertiga,maklum baru lulus SMA tahun yang sama. Selama dua setengah jam diperjalanan,akhirnya ia tiba di kota semarang. Ini adalah pertama kali aurel tinggal jauh dari orang tuanya,perasaan campur aduk juga tentu dirasakan aurel. Setelah mobil terpalkir,aurel bergegas turun dan mengambil barang-barang bawaannya. Sembari mengangkat barang bawaan,aurel dan ayah langsung menyurusi sebuah gang kecil. Berjalan sedikit jauh kedalam dan sampailah mereka didepan kontrakan itu. “Assalamu’alaikum” kami mengucap salam sembari memasuki rumah yang pintunya memang terbuka. “Wa’alaikumsalam,pak” sahut teh arsy dan teh nadlyne. Rumah tersebut adalah rumah tua dengan dua lantai dan sedikit tidak terawat. Saat itu aurel memaklumi hal tersebut,apalagi biaya yang ia miliki untuk menyewa rumah kontrakan sangat terbatas. Tangga menuju lantai dua adalah tangga kayu dengan pegangan kayu. Terlihat asal-asalan dibuatnya. Aurel mendekati tangga dan melihat keatas ,diujung tangga tersebut adalah tembok,sebelah kiri adalah pintu kecil menuju keluar ketempat jemuran dan talang air,dan disebelah kanan tersebut ruangan tanpa pintu yang hanya bisa dimasuki dengan cara sedikit membungkuk. Ruangan tersebut tepat berada di atas kamar tidur aurel yang terletak diantara tangga dan kamar teh arsy. Kamar teh arsy adalah kamar yang paling deket pintu utama,nadlyne lebih memilih kamar paling ujung di dalam,sekitar tiga langkah dari tangga,tepat disebrang dapur yang merupakan akses menuju satu-satunya kamar mandi dirumah itu. Terdapat ruangan kosong yang cukup lebar di depan kamar aurel dan kamar teh arsy dan ruangan ini nantinya akan dijadikan tempat berkumpul dengan alas karpet lusuh. Kemudian aurel langsung membenahi barang-barangnya didalam kamar baru. Ada beberapa noda lembab didinding berwarna coklat dan sebagian terkelupas. Pantas saja terasa dingin,memang lembab pikirannya,tapi sudahlah tempat ini lumayan nyaman. Sore pun tiba, ayah aurel pun berpamitan untuk pulang. Dengan berat, aurel melepas kepergiannya karena tak tega membayangkan penghuni rumahnya hanya tinggal ayah dan mamahnya saja. Kedua kakak aurel sudah memiliki kehidupan masing-masing di luar kota. Tentu sebagai anak bungsu merasa berat untuk meninggalkan orang tuanya. Singkat cerita, satu bulan menempati rumah tersebut, aurel tidak merasakan ada yang aneh. Atau mungkin aurel mengabaikannya karena sibuk pada ospek dan persiapan kuliah? Oh ya, aurel bukanlah sosok yang indigo. Namun, ia terkadang bisa merasakan keberadaan makhluk halus di sekitarnya. Sampai pada suatu hari, saat itu kegiatan belajar sudah berjalan dan tugas-tugas mulai berdatangan, aurel harus pulang ke kontrakan sekitar pukul 7 malam dan langsung tertidur. Setelah lama aurel tertidur, ia terbangun dengan keadaan sekelilingnya yang gelap sekali. Memang kebiasaan aurel saat hendak tidur selalu mematikan lampu kamar, ia tidak bisa tidur dalam kondisi terang. Tapi saat itu benar-benar gelap total dan aurel harus membiasakan matanya dalam gelap. Setelah nyawanya kumpul, aurel baru sadar jika kegelapan ini karena lampu ruangan di depan kamarnya mati. Biasanya kalo malam lampu tersebut dinyalakan dan cahayanya masuk lewat jendela di atas pintu kamar dan lewat sela-sela pintu yang rapuh. Saat itu, aurel meraba-raba mencari HP dalam gelapan, ternyata ada telepon dan sms masuk selama ia tidur. Dari kedua saudaranya yang mengabarkan mereka tidak bisa pulang karena mengerjakan tugas kelompok di kost temannya.Yang berarti, aurel harus sendirian di kontrakan. Saat aurel melihat jam, ternyata saat itu sudah pukul dua malam. Ia sedikit merinding dan berusaha tidur kembali, tapi kantuknya sudah hilang. Jadi, aurel memaksakan untuk menutup mata dan pikirannya melayang kesana kemari. Seketika ia teringat, bukankah saat pulang tadi ia membuka pintu utama dan langsung menyalakan lampu ruang depan? aurel sangat ingat betul jika ia langsung masuk kamar, ganti baju lalu tertidur. Dia tidak memadamkan lampu itu, bahkan lampu itu selalu menyala setiap malam dan menjadi satu-satunya sumber cahaya di malam hari. Lalu kenapa sekarang padam? aurel hanya bisa berusaha tenang, dan memastikan ingatannya, saat hendak bangun dari tidurnya dan menyalakan lampu kamar, tiba-tiba aurel mendengar suara lirih sekali dari balik pintu kamarnya “Hihihihi”. DEG! Detak jantung aurel saat itu serasa berhenti. Seketika ia mengurungkan diri untuk berdiri. aurel hanya duduk di atas tempat tidur sambil memegang erat selimut. aurel diam dalam posisi waspada, ragu antara yakin mendengar suara tawa dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa ia hanya salah dengar. Ia terus berusaha fokus, tapi yang didengar hanya hening. Pelan-pelan aurel kembali ke posisi tidur. Berhati-hati sekali seakan-akan membangunkan sesuatu yang ia pun tak tau apa. Suara langkah kaki kecil berlari melintas di depan kamarnya. Otak aurel langsung merespon jika itu adalah tikus. “Tikus! Ya itu tikus! (Atau mudah2an tikus),”dipikirannya. Belum selesai ia meyakinkan diri sendiri, suara lain membuatnya kaku sekaku-kakunya. Dug.. Sreeekkkkk.. Dug.. Sreeekkkkk.. Suara sesuatu diseret. Seperti orang yang berjalan pincang dengan satu kaki diseret, berkeliling di ruangan depan kamarnya. Sesekali mendekati ke arah kamar aurel ke arah kamar teh arsy dan berputar lagi. “Hihihihi…” suara tertawa lirih itu muncul lagi. Kali ini, aurel yakin jika ia tidak salah dengar. Dengan ketakutakan, aurel menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sembari memejamkan mata rapat-rapat. Keringat membasahi bajunya. Saat itu aurel berusaha membaca ayat apapun yang diingatnya. Tapi tidak satupun lancar diucapkannya. Terbesit dalam pikirannya untuk bangun dan menyalakan lampu kamar. Pikirnya kalau terang ia akan lebih tenang? Tapi disisi lain, aurel merasa takut jika dengan menyalakan lampu ia malah akan melihat sosok-sosok yang sedang mengganggunya. Entah berapa lama aurel diam dalam posisi yang sama. Tidak bergerak dan suara-suara itu tidak kunjung pergi. Ia tidak berani membuka selimut, takut justru mereka akan muncul di depan mukanya. Padahal kondisinya saat itu sudah basah kuyup oleh keringat. Mungkin karena tubuh aurel lelah setelah tegang dalam waktu lama, akhirnya ia pun tertidur dengan sendirinya. Aurel terbangun saat adzan subuh berkumandang, suara-suara aneh itu sudah hilang. Meski sedikit lega karena ada suara-suara orang di gang berjalan menuju masjid untuk salat subuh, tapi rasa takut aurel masih sangat besar. Yaa,itu adalah momen pertama aurel berkenalan dengan penghuni kontrakan. Walau tidak bertatap muka langsung, tapi perkenalan itu membekas hingga sekarang. Ia tidak akan menceritakan kejadian tersebut kepada kedua saudaranya.Aurel menceritakan jika cerita tersebut merupakan kisah nyata yang dialaminya. Aurel adalah seorang wanita yang sekarang tinggal di kota kecil Jawa Tengah.
Ia harus pindah ke kota semarang untuk menuntut ilmu disalah satu Universitas Diponegoro.
Saat pindah ke semarang,aurel pergi bersama ayahnya.
Ayahnya mengantarkan aurel ke rumah kontrakan yang akan dihuni aurel selama menuntut ilmu disana.
Dikontrakan itu,aurel juga tinggal bersama dua orang saudara sepupunya yang juga menuntut ilmu ditempat dan angkatan yang sama dengannya.
Saudara tertua bernama arsy dan saudara yang lebih tua dari aurel bernama nadlyne.
Aurel merupakan yang paling kecil dari mereka bertiga,maklum baru lulus SMA tahun yang sama.
Selama dua setengah jam diperjalanan,akhirnya ia tiba di kota semarang. Ini adalah pertama kali aurel tinggal jauh dari orang tuanya,perasaan campur aduk juga tentu dirasakan aurel. Setelah mobil terpalkir,aurel bergegas turun dan mengambil barang-barang bawaannya.
Sembari mengangkat barang bawaan,aurel dan ayah langsung menyurusi sebuah gang kecil. Berjalan sedikit jauh kedalam dan sampailah mereka didepan kontrakan itu.
“Assalamu’alaikum” kami mengucap salam sembari memasuki rumah yang pintunya memang terbuka.
“Wa’alaikumsalam,pak” sahut teh arsy dan teh nadlyne.
Rumah tersebut adalah rumah tua dengan dua lantai dan sedikit tidak terawat. Saat itu aurel memaklumi hal tersebut,apalagi biaya yang ia miliki untuk menyewa rumah kontrakan sangat terbatas. Tangga menuju lantai dua adalah tangga kayu dengan pegangan kayu. Terlihat asal-asalan dibuatnya. Aurel mendekati tangga dan melihat keatas ,diujung tangga tersebut adalah tembok,sebelah kiri adalah pintu kecil menuju keluar ketempat jemuran dan talang air,dan disebelah kanan tersebut ruangan tanpa pintu yang hanya bisa dimasuki dengan cara sedikit membungkuk. Ruangan tersebut tepat berada di atas kamar tidur aurel yang terletak diantara tangga dan kamar teh arsy. Kamar teh arsy adalah kamar yang paling deket pintu utama,nadlyne lebih memilih kamar paling ujung di dalam,sekitar tiga langkah dari tangga,tepat disebrang dapur yang merupakan akses menuju satu-satunya kamar mandi dirumah itu. Terdapat ruangan kosong yang cukup lebar di depan kamar aurel dan kamar teh arsy dan ruangan ini nantinya akan dijadikan tempat berkumpul dengan alas karpet lusuh. Kemudian aurel langsung membenahi barang-barangnya didalam kamar baru. Ada beberapa noda lembab didinding berwarna coklat dan sebagian terkelupas.
Pantas saja terasa dingin,memang lembab pikirannya,tapi sudahlah tempat ini lumayan nyaman.
Sore pun tiba, ayah aurel pun berpamitan untuk pulang.
Dengan berat, aurel melepas kepergiannya karena tak tega membayangkan penghuni rumahnya hanya tinggal ayah dan mamahnya saja. Kedua kakak aurel sudah memiliki kehidupan masing-masing di luar kota. Tentu sebagai anak bungsu merasa berat untuk meninggalkan orang tuanya.
Singkat cerita, satu bulan menempati rumah tersebut, aurel tidak merasakan ada yang aneh. Atau mungkin aurel mengabaikannya karena sibuk pada ospek dan persiapan kuliah?
Oh ya, aurel bukanlah sosok yang indigo. Namun, ia terkadang bisa merasakan keberadaan makhluk halus di sekitarnya. Sampai pada suatu hari, saat itu kegiatan belajar sudah berjalan dan tugas-tugas mulai berdatangan, aurel harus pulang ke kontrakan sekitar pukul 7 malam dan langsung tertidur. Setelah lama aurel tertidur, ia terbangun dengan keadaan sekelilingnya yang gelap sekali.
Memang kebiasaan aurel saat hendak tidur selalu mematikan lampu kamar, ia tidak bisa tidur dalam kondisi terang. Tapi saat itu benar-benar gelap total dan aurel harus membiasakan matanya dalam gelap. Setelah nyawanya kumpul, aurel baru sadar jika kegelapan ini karena lampu ruangan di depan kamarnya mati. Biasanya kalo malam lampu tersebut dinyalakan dan cahayanya masuk lewat jendela di atas pintu kamar dan lewat sela-sela pintu yang rapuh. Saat itu, aurel meraba-raba mencari HP dalam gelapan, ternyata ada telepon dan sms masuk selama ia tidur. Dari kedua saudaranya yang mengabarkan mereka tidak bisa pulang karena mengerjakan tugas kelompok di kost temannya.Yang berarti, aurel harus sendirian di kontrakan. Saat aurel melihat jam, ternyata saat itu sudah pukul dua malam. Ia sedikit merinding dan berusaha tidur kembali, tapi kantuknya sudah hilang. Jadi, aurel memaksakan untuk menutup mata dan pikirannya melayang kesana kemari. Seketika ia teringat, bukankah saat pulang tadi ia membuka pintu utama dan langsung menyalakan lampu ruang depan?
aurel sangat ingat betul jika ia langsung masuk kamar, ganti baju lalu tertidur. Dia tidak memadamkan lampu itu, bahkan lampu itu selalu menyala setiap malam dan menjadi satu-satunya sumber cahaya di malam hari.
Lalu kenapa sekarang padam?
aurel hanya bisa berusaha tenang, dan memastikan ingatannya, saat hendak bangun dari tidurnya dan menyalakan lampu kamar, tiba-tiba aurel mendengar suara lirih sekali dari balik pintu kamarnya “Hihihihi”.
DEG! Detak jantung aurel saat itu serasa berhenti.
Seketika ia mengurungkan diri untuk berdiri. aurel hanya duduk di atas tempat tidur sambil memegang erat selimut.
aurel diam dalam posisi waspada, ragu antara yakin mendengar suara tawa dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa ia hanya salah dengar. Ia terus berusaha fokus, tapi yang didengar hanya hening. Pelan-pelan aurel kembali ke posisi tidur. Berhati-hati sekali seakan-akan membangunkan sesuatu yang ia pun tak tau apa.
Suara langkah kaki kecil berlari melintas di depan kamarnya.
Otak aurel langsung merespon jika itu adalah tikus.
“Tikus! Ya itu tikus! (Atau mudah2an tikus),”dipikirannya.
Belum selesai ia meyakinkan diri sendiri, suara lain membuatnya kaku sekaku-kakunya.
Dug.. Sreeekkkkk.. Dug.. Sreeekkkkk.. Suara sesuatu diseret.
Seperti orang yang berjalan pincang dengan satu kaki diseret, berkeliling di ruangan depan kamarnya.
Sesekali mendekati ke arah kamar aurel ke arah kamar teh arsy dan berputar lagi.
“Hihihihi…” suara tertawa lirih itu muncul lagi.
Kali ini, aurel yakin jika ia tidak salah dengar.
Dengan ketakutakan, aurel menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sembari memejamkan mata rapat-rapat.
Keringat membasahi bajunya. Saat itu aurel berusaha membaca ayat apapun yang diingatnya. Tapi tidak satupun lancar diucapkannya. Terbesit dalam pikirannya untuk bangun dan menyalakan lampu kamar.
Pikirnya kalau terang ia akan lebih tenang? Tapi disisi lain, aurel merasa takut jika dengan menyalakan lampu ia malah akan melihat sosok-sosok yang sedang mengganggunya.
Entah berapa lama aurel diam dalam posisi yang sama. Tidak bergerak dan suara-suara itu tidak kunjung pergi.
Ia tidak berani membuka selimut, takut justru mereka akan muncul di depan mukanya. Padahal kondisinya saat itu sudah basah kuyup oleh keringat. Mungkin karena tubuh aurel lelah setelah tegang dalam waktu lama, akhirnya ia pun tertidur dengan sendirinya. Aurel terbangun saat adzan subuh berkumandang, suara-suara aneh itu sudah hilang.
Meski sedikit lega karena ada suara-suara orang di gang berjalan menuju masjid untuk salat subuh, tapi rasa takut aurel masih sangat besar. Yaa,itu adalah momen pertama aurel berkenalan dengan penghuni kontrakan.
Walau tidak bertatap muka langsung, tapi perkenalan itu membekas hingga sekarang. Ia tidak akan menceritakan kejadian tersebut kepada kedua saudaranya.
Leave a Reply