“Adena, ayo makan!. Jangan di kamar terus!” teriak ibunya sembari menata piring berisi makanan di meja makan.
“Sebentar ya Bu, aku sedang merapikan buku-buku di meja belajar ku,” jawabku setengah berteriak.
“Nanti saja, ayo makan dulu, kamu kan belum makan siang. Apa tidak lapar?” paksa ibuku.
“Iyaa Bu, sebentar yaaaaa,” ucapku menurutinnya.
Ibuku selalu seperti itu. Bila aku telat makan sebentar saja, dia akan terus memanggilku. Padahal aku sudah tidak tahan melihat meja belajarku yang sangat jauh dari kata rapi. Kertas-kertas latihan soal ini sangat banyak dan bercecer dimana-mana, sampah tisu serta sisa makanan yang belum dibuang sampai-sampai bolpoin dan pensil-pensil yang biasanya tersusun rapi di meja belajar kini malah berserakan.
Sekelebat masa lalu itu muncul lagi, tak bisa hilang begitu saja bagai sebuah video pada kaset yang akan abadi di sana. Jika kaset itu punya nama, mungkin namanya adalah salah satu titik terendahku selama hidup di dunia yang fana ini. Pikiranku berkelana, mengarah pada memori kelam sekaligus bermakna beberapa minggu yang lalu. Hal itu berawal dari ditunjuknya aku sebagai perwakilan sekolah dalam olimpiade matematika, lalu mengantarkanku pada pengalaman tak terduga dan berakhiran cukup pilu.
“Adena, kamu ibu tunjuk sebagai perwakilan sekolah untuk mengikuti olimpiade matematika se-Kabupaten Banyumas ya?” ucap bu laras, guru matematika yang merangkap sebagai wali kelasku pada saat itu.
“Beneran, Bu? Adena mau banget,” jawabku senang.
Bagaimana mungkin aku menolaknya, bila menang, nanti sertifikatnya kan bisa menjadi bekalku saat PPDB nanti. Lagipula aku kan senang matematika, semoga aku menang. Sejak saat itu, setelah pulang sekolah bu Laras selalu mengajariku membahas soal-soal olimpiade matematika. akhirnya waktu tidurku pun berkurang. Setiap hari aku harus mengerjakan banyak soal matematika sampai larut malam. Selain itu aku juga mengerjakan soal-soal matematika dari website dan meminta tambahan soal ekstra dari bu Laras. Berbagai cara kulakukan agar bisa memenangkan olimpiade itu.Berminggu-minggu aku belajar, hingga tiba saatnya olimpiade itu tiba. Guru dan teman temanku pun sangat antusias, mereka beramai-ramai mendoakanku agar aku bisa menang di olimpiade itu.
“Semangat Adena, aku doakan semoga kamu menang,” ucap Amira teman sebangkuku memotivasiku.
“Bismillah, semoga sukses ya,” ucap bu Laras membesarkan hatiku.
Setelah meminta doa kepada teman-teman serta bapak dan ibu guru, aku berangkat mengikuti olimpiade ditemani bu Laras. Beberapa jam pun berlalu, olimpiade itu telah selesai. Sekarang giliran menunggu hasilnya. Aku agak pesimis karena ternyata aku hanya bisa menjawab sebagian. Namun aku terus berdoa semoga aku menang.
“Halo semua peserta olimpiade matematika se-kabupaten Banyumas,” ucap host olimpiade yang berhasil menarik atensi semua peserta.
“Akhirnya sampailah kita pada puncak acara yaitu pengumuman hasil olimpiade matematika, ” lanjut host itu dengan suaranya yang lantang.
“Baiklah kita mulai, juara kelima diraih oleh Nesya Adhisti dari SMP Deralangga.”
“Juara keempat diraih oleh Oktara Rahardika dari SMP Bunga Bangsa.”
“Juara ketiga diraih oleh Olivia Lavannya dari SMP Pelangi.”
“Juara kedua diraih oleh Bagas Ardipati dari SMP Pelita Bangsa,” ucap host itu satu persatu.
Suara tepuk tangan tiba-tiba berhenti ketika host akan diumumkan juara kesatu. Aku hanya bisa berpasrah. Namaku tidak disebutkan dalam empat besar juara tadi. Aku sangat pesimis bagaimana kalau aku tidak menang?
“Juara pertama diraih oleh jeng jeng jeng…,” ucap host itu sembari menahan tawanya menggoda peserta.
Aku dan beberapa peserta merasa kesal karena host berusaha menunda-nunda pengumuman juara ke satu dengan candaan yang sama sekali tidak lucu. Padahal aku sangat gemetar menunggu nama yang akan disebutkan.
“Maaf-maaf, sekarang saatnya serius ya. Juara kesatu olimpiade matematika se-kabupaten Banyumas adalah ……RACHELLE SELVANNY dari SMP Bina Nusantara,” ucap host itu lantang.
Suara teriakan penonton serta tepuk tangan terdengar begitu keras dan tiada hentinya. Raut wajah orang-orang yang mendapatkan juara juga nampak bahagia kala itu, namun tak ada yang tahu isi hati mereka bukan?. Mungkin saja diantara bunyi tepuk tangan serta sorak sorai nama pemenang, terselip kesedihan yang tak diindahkan. Hal itu yang aku rasakan sekarang. Aku juga ikut bertepuk tangan, tapi sungguh di dalam benakku ada banyak rasa yang tertahan dan sulit diungkapkan.
“Tidak apa-apa ya Adena, kamu sudah melakukan yang terbaik untuk sekolah. Masih banyak kesempatan lagi yang bisa kamu ikuti. Ayo kita pulang!” ajak bu Laras menampakkan wajah teduhnya.
Aku yang mendengarnya hanya bisa mengangguk tanda mengiyakan. Mulutku terlalu berat digerakan agar bisa bersuara. Yang aku rasakan saat itu terlalu abstrak untuk bisa digambarkan. Bagaimana aku iklas, banyak yang kukorbankan demi lomba ini. Tapi tak ada manfaat yang kudapat sama sekali. Aku kalah dan akan tetap kalah. Setibanya di rumah, aku langsung masuk kamar, menangis dan melempar benda-benda yang ada di sekitarku, meluapkan emosiku yang tertahan. Sungguh aku merasa usahaku selama ini sia-sia. Mengapa Tuhan tidak membuatku menang. Apakah usahaku kurang. Aku menangis kencang, mataku memerah, tenggorokanku serak tak ku pedulikan. Rasa kecewa ini benar-benar menguasi hatiku saat itu hingga semua ini terhenti ketika ibu mengetuk kamarku.
“Adenaaa, buka pintunya!” sapa ibunya setengah khawatir.
Mendengar suara ibuku, aku hanya diam membisu.
Sungguh aku sedang tidak mau bertemu denan siapa pun. Aku malu bertemu mereka semua. Banyak orang telah menggantungkan harapan yang tinggi kepadaku terkait olimpiade ini. Tapi aku malah pulang dengan tangan kosong. Aku gagal mewujudkan harapan mereka, aku tahu mereka pasti sangat kecewa padaku. Isak tangis yang ku pendam selama olimpiade itu kini luruh lantah, air mataku keluar bagai air sungai yang tak ada lelahnya mengalir.
Sambil sedikit terisak, aku berkata pada ibuku, “Bu, biarkan aku sendiri dulu, please!”
Mendengar suara itu tentu saja ibuku tak langsung mengiyakan, ia mungkin tak tega, aku saja merasa miris dengan kondisiku sendiri. Beberapa menit setelah itu ibu membawakan nasi goreng serta jus alpukat kesukaanku.
“Boleh saja kamu bersikap seperti itu, tapi kamu jangan lupa makan Adenaaa! Ayo buka pintu kamarmu sekarang!” lirih ibuku.
Aku pun menuruti permintaan ibuku. Aku membuka pintu lalu mengambil makanan itu. Rupaku saat itu benar-benar mengenaskan. Berbalut seragam sekolah yang sudah lecek, rambut yang sudah terurai kemana mana serta muka yang kusut khas orang lama menangis. Hingga dini hari, tangisku belum berhenti. Makanan yang ibu berikan pun tak kusentuh sama sekali. Ibu kembali mengetuk kamarku, mengingatkan aku untuk sholat subuh. Paginya, aku bersiap ke sekolah seperti biasa namun dengan tampilan wajah yang sedih dan suram. Aku juga hanya sarapan sedikit.Sesampainya di sekolah teman sekelasku langsung menyerbukuku dan menanyakan hasil olimpiade itu. Aku ingin sekali marah namun aku juga malu, saat itu aku sedang berusaha melupakan tapi mereka terus mencecarku dengan berbagi pertanyaan.
“Adena bagaimana hasil olimpiadenya?” tanya Leny teman sekelasku.
“Aku kalah, “ jawabku lirih.
“Soalnya susah banget ya? padahal kamu termasuk jajaran orang pintar di sekolah? “ tanya Leny lagi.
Pertanyaan demi pertanyaan teman temanku membuat hatiku semakin teriris. Mereka benar-benar tidak memikirkan perasaanku. Pertanyaan mereka tak ada yang kujawab, lagi-lagi aku hanya diam.Hari-hari berikutnya semangatku belajar mulai kendordan nilaiku kian turun. Aku tidak bisa fokus belajar, pikiranku masih teringat olimpiade itu.
“Eh teman-teman, kasihan ya Adena, sekarang nilainya semakin menurun lho,” kata Mita sedikit berbisik.
“Iya aku tahu, padahal dulu dia sombong banget ya pas mau olimpiade wkwk. Sekarang kena batunya dia,” ucap Leny membenarkan pernyataan Mita.
Lagi-lagi aku mendengar omongan tak enak tentang diriku. Semenjak olimpiade itu aku juga berubah drastis. Aku jadi pendiam dan tidak aktif ketika pembelajaran. Sepulang sekolah, ibuku menghampiriku di kamar. Ia duduk di sampingku dan berkata, “Adena, ibu dengar nilaimu sekarang turun, apakah kamu masih memikirkan olimpiade itu?”
Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan ibuku. Mengapa ia tahu secepat ini perihal keadaan nilaiku sekarang ini. Apakah ada guru yang melapor pada ibuku.
“Maaf Bu, Adena memang masih teringat olimpiade itu,” ucapku lirih tak berani menatap ibu.
“Tidak seharusnya kamu larut seperti itu, sayang sekali Adena bila nilaimu terus turun. Kamu sudah kelas 9,” ucap ibu sambil membelai rambutku.
“Maaf Bu, sebenarnya Adena juga tidak mau seperti ini terus. Tapi Adena sekarang tidak bisa fokus ke pelajaran, materi yang Adena pelajari tidak ada yang Adena pahami. Adena rasa memang bodoh,” kataku jujur sambil sedikit terisak.
“Kamu tidak bodoh Adena, ibu harap kamu akan terus berusaha dan bersemangat dalam belajar. Kegagalan dalam olimpiade itu hal yang wajar. Masa semua harus jadi juara,” lanjut ibu
Esoknya ibuku mengajak ku pergi. Ternyata ibu mengajakku ke taman bunga, yang lumayan terkenal di wilayah tempat tinggalku. Di taman itu terdapat banyak jenis bunga, ada anggrek, dandelion, melati, mawar, tulip, dan masih banyak lagi. Beberapa jenis pohon besar mengelilingi menambah rindang dan sejuk taman ini.Ibu lalu mengajakku duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari kami berdiri. Ibu mengambil setangkai bunga dandelion, entah apa yang akan ia lakukan pada bunga itu. Ibu lalu memberikan bunga itu kepadaku. Aku pun menerima bunga itu sembari menatapnya kebingungan.
“Bunga apa ini Bu dan untuk apa Ibu berikan kepadaku?” tanyaku kebingungan.
“Masa tidak tahu?. Ini namanya bunga Dandelion. Ya kita amati bunga itu” jawab ibu duduk di sebelahku.
“Itu kan cuma bunga, memang ada apa dengan bunga ini?” tanyaku sedikit kesal. Lagian ibu ada-ada aja.
“Bunga ini ada filosofinya lho,” kata ibu membuatku penasaran.
“Bunga dandelion itu bentuknya kecil dan mudah terbawa angin, bunga ini juga bisa terbang dan terjatuh di tempat lain.” Ibuku mulai menjelaskan.
“Nah di tempat yang baru, bunga dandelion itu masih bisa tumbuh hingga menghasilkan kehidupan baru,” lanjut ibu.Mendengar penjelasan ibu, aku hanya diam membisu, otakku sedang mencoba menelaah maksud dari perkataan ibuku.
“Terus hubungannya denganku apa, Bu?” tanyaku lagi.
“Walau bunga dandelion terbawa angin hingga terdampar di tempat baru, bunga dandelion masih bisa tumbuh kembali dengan berani,” jelas ibu .
“Jadi, kamu harus belajar dari sifat bunga dandelion ini, walaupun ada masalah/kegagalan yang kamu dapatkan, kamu harus tetap optimis dan jangan menyerah,” tambah ibu
Adena.Mendengar itu semua, aku pun merasa tersentil. Bunga saja bisa bertahan walau diterpa banyak masalah, masa aku baru kalah sekali saja sudah seperti ini. Bukankah kalah dalam sebuah olimpiade itu bukan akhir dari sebuah perjuangan. Benar juga yang ibu katakan. Hidupku masih panjang tidak seharusnya aku sedih berlarut-larut seperti ini.Aku menyesal karena kesedihanku membuat nilaiku turun, padahal tak seharusnya sampai seperti ini.
“Ibu benar, kenapa aku tak berpikir sampai situ. Maaf ya Bu gara-gara kehilangan semangat, nilaiku jadi turun,” aku merasa menyesal serayamemeluk ibu.
“Ibu maafkan. tapi kamu harus janji ya jangan sedih sedih lagi, sayang soalnya kamu kan sudah mau lulus,” kata ibu sambil membelai rambutku lagi.
Aku pun mengangguk, “Siap Bu.”
“Bagus, karena kamu kembali bersemangat, ibu hadiahkan bunga ini untukmu,” ucap ibu menyerahkan bunga itu.
Sesampai di rumah aku menaruh bunga Dandelion ke vas bunga dan kuletakan di atas meja belajar. Kini aku kembali menangis, tetapi bukan karena olimpiade, melainkan karena rasa bersyukurku memiliki ibu yang sangat bijaksan. Berkat ia, aku sekarang lebih semangat. Aku mencoba mencari ibu di dapur dan memeluknya erat. “Terima kasih ibu dan terima kasih bunga dandelion,” ucapku dalam hati.
bagus sekali cerpennya…
terimakasiii