Kamis itu basah dan muram, di depan gedung bioskop yang terabai itu aku bagai serpihan semesta yang tersingkir. Dalam keramaian, aku adalah satu-satunya calon penonton pertunjukan pada bioskop hari ini. Mengapa demikian tidak laku? Sebab ulah tangan sutradara? Tidak, kurasa akibat jadwal tayang yang tak tentu.
Bioskop ini tidak seperti bioskop pada umumnya, istimewa sekali. Tidak kutemukan penjual tiket di dekat pintu masuk, pula tidak kujumpai penjual berondong jagung dengan harum margarin mencolok yang jadi kegemaran orang kota. Di mana manusia? Mengapa mereka tidak menyaksikan tayangan karya sutradara hebat itu?
Di dalam ruangan itu pertunjukan berupa peristiwa luka yang terbekas selama tujuh belas tahun berputar sekali malam. Pertunjukannya gratis, cukup beri air mata maka dapat fasilitas berupa kilas balik dendam yang lengkap. Menyenangkan, bukan? Aku menyaksikannya berulang kali pada malam-malam tertentu setahun ini. Tanpa proyektor, semangkung berondong jagung, apalagi seporsi kawan. Kadang berlatar hujan, kalau sial hanya udara kering. Sesederhana itu pertunjukannya. Kurangnya hanya satu, tidak berhenti. Jika tidak pernah beranjak dari kursi penonton, pertunjukan berlangsung seumur hidup ditemani sesal dan benci yang belum temukan maafnya.
Puas dengan pertunjukan, kubawa diriku menuju rumah tanpa atap dan beberapa lubang pada dinding dengan kotak pos merah di depannya. Ah, sudah lama sekali aku tidak memeriksa apa yang ada di dalamnya. Dengan perlahan kubuka kotak pos itu dan kuperiksa kiriman-kiriman takdir yang sebagian sudah kedaluwarsa. Belum selesai membaca, tukang pos datang dan memberiku sebuah kiriman lagi.
“Sudah berapa lama kau bekerja?”
“Cukup lama,”
“Takdir ini bukan untukku, berikan ini untuk orang sebelah,”
“Ah, pantas saja! Sejak kemarin ia terus keluhkan takdirnya yang entah,”
“Bagaimana dengan takdir lain milikku sebelumnya? Tidak ada yang kau salah kirimkan?”
“Sepertinya ada…”
Ah, pantas kerusakan di mana-mana. Ini sebab takdir yang tertukar dengan kotak pos tetangga. Aku membutuhkan jadwal perbaikan segera pada semestaku.
Leave a Reply