Arak dan Peneguk

Kota itu adalah yang terburuk. Tunawisma jadikan jalan dan emperan toko sebagai tempat beradu. Pencurian di kompleks-kompleks perumahan mewah tidak lagi kejutkan saluran TV lokal sebagai berita akhir pekan. Pejabat sibuk susunkan kota sedang aparat susunkan rencana keamanan. Semua kacau, semua balau.

Dalam segala hiruk-pikuk yang tidak menyenangkan, bar di sudut kota menjadi tempat paling kumuh sebab menampung segala nasib dan maki dari manusia-manusia yang kurang beruntung. Dentuman musik yang tak gambarkan suasana hati apapun hanya jadi ingar bingar yang terabai. Yang berharta dan melarat bersama hilangkan kesadaran sementara dari hidup yang kedaluwarsa. Tidak, mereka tidak takut perampok akan jejalkan diri ke dalam kerumunan bar itu. Untuk apa perampok lakukan kejahatan pada mereka yang hidupnya berputus asa?

Dua laki-laki di sudut ruang menyingkirkan diri dari segala jangkauan manusia di sana. Mereka tidak minum alkohol atau arak mahal bergengsi, terlihat hanya soda dingin yang terisi pada gelas namun tidak kunjung habis. Mereka sibuk amati pintu bar tempat lalu-lalang.

“Sudah satu setengah jam, Ta. Dia jadi datang, tidak?” Salah satu di antara mereka mulai memastikan keadaan dengan kesal. “Dia janji begitu di chat, tunggu sebentar lagi,” jawab laki-laki satunya dengan tidak yakin. “Menurutmu sebentar itu berapa lama? Ini terlalu malam untuk membahas segala hal.” 

Genta menghembus napas berat. Dengan kesal ia terus menelpon meski tak kunjung diangkat. Semakin malam, ia semakin khawatir dengan keselamatan di jalan pulang nanti sedang kota masih tidak aman dilalui seorang diri.

Di panggilan keempat belas, ia berhenti. Disandarnya punggung pada sofa hitam itu. Ia pejamkan mata dan lemaskan tubuh yang lesu. Rudi melihatnya heran, “Menyerah? Ingin pulang sekarang?”

Genta menggeleng, “Tidak sekarang Rud, gelas kita masih penuh. Habiskan saja dulu sampai entah kapan.” Rudi terdiam, namun pada akhirnya ia teguk soda miliknya hingga setengah gelas. “Sebetulnya aku tidak masalah dengan larutnya malam, hanya saja aku-“

“Ya, aku paham.”

Genta membuka matanya lalu minum sedikit soda. Mereka sama-sama takut tidak lagi hidup setelah memutuskan untuk pulang dari bar. Berlebihan memang, namun mereka juga bukanlah orang-orang berputus asa yang tidak takut pada perampok bersenjata itu daripada hidup mereka sendiri.

Belum tengah malam, seorang lelaki paruh baya buat gaduh suasana dengan memecahkan satu botol arak mahal yang sedang diantar pelayan. Ia mabuk, tidak terima disalahkan dan berlanjut akan memukul siapa saja yang menyalahkannya. Namun jujur saja dia tidak pantas untuk mabuk dan bersikap demikian jika dilihat dari penampilannya. Entahlah, dalam hidup yang tua pun keinginan untuk menyerah dan memaki tidaklah hilang.

“Dia terlalu tua untuk bersikap kurang ajar seperti itu,” ucap Rudi. Genta menggeleng, “Sepertinya bersikap bukan soal umur, Rud. Namun tetap saja dia mabuk.” Rudi tertawa renyah, ia habiskan soda dan memesan satu gelas lagi. Ia simpan bungkus rokok rapat-rapat ke dalam saku sebab dia tidak ingin mengganggu Genta dengan asapnya jika ia putuskan untuk merokok malam ini.

“Tapi lihatlah, Rud. Tempat sekacau ini masih menjadi tempat favorit bagi sebagian orang. Aku tidak tahu mengapa,” Genta berkata. “Kupikir jika bar adalah manusia, sudah kupastikan dia sibuk mengulas segala aduan nasib dan ketidakberuntungan semua pelanggannya. Ia akan bosan dengan semua keputusasaan yang selalu datang setiap hari.”

Rudi menatap keramaian yang sudah mereda lalu beralih pada pecahan botol kaca arak di dekat lelaki paruh baya itu. Seorang pelayan mendekat, meletakkan gelas soda dingin kemudian pergi. Rudi meneguknya. “Hanya arak yang membuat manusia berani utarakan jujurnya meski kejujuran itu akan merusak sesuatu. Lucunya mereka lebih takut dengan kejujuran mereka sendiri dibanding dosa dari haramnya meneguk,” kata Rudi dengan santai.

Genta tertawa, “Bagi mereka arak adalah tempat beradu masalah karena setelahnya mereka tak sadarkan diri.” Rudi mengangguk, “Padahal permasalahan itu tetap berlanjut dan semesta tidak peduli apakah mereka dalam keadaan sadar atau tidak untuk menyelesaikannya.”

Kericuhan lelaki paruh baya itu hanya berlangsung sementara sebab kerabatnya yang tiba-tiba muncul membayar kompensasi. Selepasnya suasana kembali normal namun musik tidak lagi dikeraskan. Entah memang sudah berkonsep demikian atau sebab lain. Kini hanya suara-suara bincangan yang tepis sunyi dalam ruang bersamaan dengan dentingan gelas yang bersulang.

“Namun Ta, kurasa mereka terlalu miskin untuk keluhkan nasib dengan segelas arak tiap harinya. Mengapa mereka tidak temukan tempat lain? Ada banyak masjid dan gereja di kota ini!”

“Kau tidak akan pernah pahami para pemabuk itu. Bagi mereka, arak adalah harapan penolong sedang kita adalah doa. Jangan tanyakan padaku soal mengapa mereka tidak berdoa!” ucap Genta dengan tertawa kecil. Rudi menggeleng dan meneguk sodanya kembali dan berkata, “Kupikir mengapa Tuhan tidak ciptakan manusia dalam mabuk saja jika hanya arak yang buat mereka ucapkan jujur?” Genta menaikkan bahu, “Entahlah, aku sedang tidak ingin mengatur Tuhan malam ini.”

Mereka saling melantur dan tertawa malam itu. Dengan kesadaran penuh tanpa alkohol atau mabuk, mereka tertawakan wajah-wajah putus asa, sesal, dan kesal yang tengah meneguk sisa-sisa harapan lewat sebotol arak. Hingga pukul satu dini hari, mereka baru sadar waktu dan memutuskan pulang bersama.

“Bagaimana jika perampok beraksi malam ini dan mengejar kita?” tanya Rudi. “Biarkan, ikuti tabiat orang-orang mabuk itu yang tak takut pada senjata perampok selain nasib hidupnya. Jika kita masih bertahan di bar itu hingga pagi, takut kalau-kalau besok kita ikut berputus asa,” jawab Genta.

Mereka memakai helm dan menaiki motor, kemudian Rudi mengarahkan motornya keluar dari tempat parkir. Masih belum mengendarai jauh, tiba-tiba suara letus tembakan terdengar dari dalam bar. Mereka terkejut, Rudi hentikan motor dengan tiba-tiba. Mereka menolehkan kepala ke arah yang sama.

Ya, perampok-perampok lemah yang bukan menguasai kota beberapa waktu lalu itu berada di bar tepat setelah Rudi dan Genta putuskan pergi untuk rebut harta orang-orang mabuk di dalam. Tiada terdengar jeritan penolakan kematian. Semua mati, semua betul-betul berputus asa.

“Ta..”
“Ya, kurasa mereka tidak bercanda dengan semua keputusasaan itu.”