{"id":2897,"date":"2022-08-04T01:17:47","date_gmt":"2022-08-04T01:17:47","guid":{"rendered":"https:\/\/lions.smktelkom-pwt.sch.id\/?p=2897"},"modified":"2022-08-04T01:17:48","modified_gmt":"2022-08-04T01:17:48","slug":"dandelilon","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lions.smktelkom-pwt.sch.id\/index.php\/2022\/08\/04\/dandelilon\/","title":{"rendered":"Dandelilon"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     &#8220;Adena, ayo makan!. Jangan di kamar terus!\u201d teriak ibunya sembari menata piring berisi makanan di meja makan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cSebentar ya Bu, aku sedang merapikan buku-buku di meja belajar ku,\u201d jawabku setengah berteriak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cNanti saja, ayo makan dulu, kamu kan belum makan siang. Apa tidak lapar?\u201d paksa ibuku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cIyaa Bu, sebentar yaaaaa,\u201d ucapku menurutinnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     Ibuku selalu seperti itu. Bila aku telat makan sebentar saja, dia akan terus memanggilku. Padahal aku sudah tidak tahan melihat meja belajarku yang sangat jauh dari kata rapi. Kertas-kertas latihan soal ini sangat banyak dan bercecer dimana-mana, sampah tisu serta sisa makanan yang belum dibuang sampai-sampai bolpoin dan pensil-pensil yang biasanya tersusun rapi di meja belajar kini malah berserakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     Sekelebat masa lalu itu muncul lagi, tak bisa hilang begitu saja bagai sebuah video pada kaset yang akan abadi di sana. Jika kaset itu punya nama, mungkin namanya adalah salah satu titik terendahku selama hidup di dunia yang fana ini. Pikiranku berkelana, mengarah pada memori kelam sekaligus bermakna  beberapa minggu yang lalu. Hal itu berawal dari ditunjuknya aku sebagai perwakilan sekolah dalam olimpiade matematika, lalu mengantarkanku pada pengalaman tak terduga dan berakhiran cukup pilu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cAdena, kamu ibu tunjuk sebagai perwakilan sekolah untuk mengikuti olimpiade matematika se-Kabupaten Banyumas ya?\u201d ucap bu laras, guru matematika yang merangkap sebagai wali kelasku pada saat itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cBeneran, Bu? Adena mau banget,\u201d jawabku senang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">      Bagaimana mungkin aku  menolaknya, bila menang, nanti sertifikatnya kan bisa menjadi bekalku saat PPDB nanti. Lagipula aku kan senang matematika, semoga aku menang. Sejak saat itu, setelah pulang sekolah bu Laras selalu mengajariku membahas soal-soal olimpiade matematika. akhirnya waktu tidurku pun berkurang. Setiap hari aku harus mengerjakan banyak soal matematika sampai larut malam. Selain itu aku juga mengerjakan soal-soal matematika dari website dan meminta tambahan soal ekstra dari bu Laras. Berbagai cara kulakukan agar bisa memenangkan olimpiade itu.Berminggu-minggu aku belajar, hingga tiba saatnya olimpiade itu tiba. Guru dan teman temanku pun sangat antusias, mereka beramai-ramai mendoakanku agar aku bisa menang di olimpiade itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cSemangat Adena, aku doakan semoga kamu menang,\u201d ucap Amira teman sebangkuku memotivasiku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cBismillah, semoga sukses ya,\u201d ucap bu Laras membesarkan hatiku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">      Setelah meminta doa kepada teman-teman serta bapak dan ibu guru, aku berangkat mengikuti olimpiade ditemani bu Laras. Beberapa jam pun berlalu, olimpiade itu telah selesai. Sekarang giliran menunggu hasilnya. Aku agak pesimis  karena ternyata aku hanya bisa menjawab sebagian. Namun aku terus berdoa semoga aku menang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cHalo semua peserta olimpiade matematika se-kabupaten Banyumas,\u201d ucap host olimpiade yang berhasil menarik atensi semua peserta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cAkhirnya sampailah kita pada puncak acara yaitu pengumuman hasil olimpiade matematika, \u201d lanjut host itu dengan suaranya yang lantang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cBaiklah kita mulai,  juara kelima diraih oleh Nesya Adhisti dari SMP Deralangga.\u201d   <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cJuara keempat diraih oleh Oktara Rahardika dari SMP Bunga Bangsa.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">      \u201cJuara ketiga diraih oleh Olivia Lavannya  dari SMP Pelangi.\u201d  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cJuara kedua diraih oleh Bagas Ardipati dari SMP Pelita Bangsa,\u201d ucap host itu satu persatu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     Suara tepuk tangan tiba-tiba  berhenti ketika host akan diumumkan juara kesatu. Aku hanya bisa berpasrah. Namaku tidak disebutkan dalam empat besar juara tadi. Aku sangat pesimis bagaimana kalau aku tidak menang?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cJuara pertama diraih oleh jeng jeng jeng&#8230;,\u201d ucap host itu sembari menahan tawanya menggoda peserta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     Aku dan beberapa peserta merasa kesal karena host berusaha menunda-nunda pengumuman juara ke satu dengan candaan yang sama sekali tidak lucu. Padahal aku sangat gemetar menunggu nama yang akan disebutkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">    \u201cMaaf-maaf, sekarang saatnya serius ya. Juara kesatu olimpiade matematika se-kabupaten Banyumas adalah \u2026\u2026RACHELLE SELVANNY dari SMP Bina Nusantara,\u201d ucap host itu lantang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     Suara teriakan penonton serta tepuk tangan terdengar begitu keras dan tiada hentinya. Raut wajah orang-orang yang mendapatkan juara juga nampak bahagia kala itu, namun tak ada yang tahu isi hati mereka bukan?. Mungkin saja diantara bunyi tepuk tangan serta sorak sorai nama pemenang, terselip kesedihan yang tak diindahkan. Hal itu yang aku rasakan sekarang. Aku juga ikut bertepuk tangan, tapi sungguh di dalam benakku ada banyak rasa yang tertahan dan sulit diungkapkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cTidak apa-apa ya Adena, kamu sudah melakukan yang terbaik untuk sekolah. Masih banyak kesempatan lagi yang bisa kamu ikuti. Ayo kita pulang!\u201d ajak bu Laras menampakkan wajah teduhnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku yang mendengarnya hanya bisa mengangguk tanda mengiyakan. Mulutku terlalu berat digerakan agar bisa bersuara. Yang aku rasakan  saat itu terlalu abstrak untuk bisa digambarkan. Bagaimana aku iklas, banyak yang kukorbankan demi lomba ini. Tapi tak ada manfaat yang kudapat sama sekali. Aku kalah dan akan tetap kalah. Setibanya di rumah, aku langsung masuk  kamar, menangis dan melempar benda-benda yang ada di sekitarku, meluapkan emosiku yang tertahan. Sungguh aku merasa usahaku selama ini sia-sia. Mengapa Tuhan tidak membuatku menang. Apakah usahaku kurang. Aku menangis kencang, mataku memerah, tenggorokanku serak tak ku pedulikan. Rasa kecewa ini benar-benar menguasi hatiku  saat itu hingga semua ini terhenti ketika ibu mengetuk kamarku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cAdenaaa, buka pintunya!\u201d sapa ibunya setengah khawatir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     Mendengar suara ibuku, aku hanya diam membisu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     Sungguh aku sedang tidak mau bertemu denan siapa pun. Aku malu  bertemu mereka semua. Banyak orang telah menggantungkan harapan yang tinggi kepadaku terkait olimpiade ini. Tapi aku malah pulang dengan tangan kosong. Aku gagal mewujudkan harapan mereka, aku tahu mereka pasti sangat kecewa padaku. Isak tangis yang ku pendam selama olimpiade itu kini luruh lantah, air mataku keluar bagai air sungai yang tak ada lelahnya mengalir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     Sambil sedikit terisak, aku berkata pada ibuku, \u201cBu, biarkan aku sendiri dulu, please!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">    Mendengar suara itu tentu saja ibuku tak langsung mengiyakan, ia mungkin tak tega, aku saja merasa miris dengan kondisiku sendiri. Beberapa menit setelah itu ibu membawakan nasi goreng serta jus alpukat kesukaanku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">    \u201cBoleh saja kamu bersikap seperti itu, tapi kamu jangan lupa makan Adenaaa! Ayo buka pintu kamarmu sekarang!\u201d lirih ibuku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">    Aku pun menuruti permintaan ibuku. Aku membuka pintu lalu mengambil  makanan itu. Rupaku  saat itu benar-benar mengenaskan. Berbalut seragam sekolah yang sudah lecek, rambut yang sudah terurai kemana mana serta muka yang kusut khas orang lama menangis. Hingga dini hari, tangisku belum berhenti. Makanan yang ibu berikan pun tak kusentuh sama sekali. Ibu kembali mengetuk kamarku, mengingatkan aku untuk sholat subuh. Paginya, aku bersiap ke sekolah seperti biasa namun dengan tampilan wajah yang sedih dan suram. Aku juga hanya sarapan sedikit.Sesampainya di sekolah teman sekelasku langsung menyerbukuku dan menanyakan hasil  olimpiade itu. Aku ingin sekali marah namun aku juga malu, saat itu aku sedang berusaha melupakan tapi mereka terus mencecarku dengan berbagi pertanyaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cAdena bagaimana hasil olimpiadenya?\u201d tanya Leny teman sekelasku.  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cAku kalah, \u201c jawabku lirih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cSoalnya susah banget ya? padahal kamu termasuk jajaran orang pintar di sekolah? \u201c tanya Leny lagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">      Pertanyaan demi pertanyaan  teman temanku membuat hatiku semakin teriris. Mereka benar-benar tidak memikirkan perasaanku. Pertanyaan mereka tak ada yang kujawab, lagi-lagi aku hanya diam.Hari-hari berikutnya semangatku belajar mulai kendordan  nilaiku kian turun. Aku tidak bisa fokus belajar, pikiranku masih teringat olimpiade itu. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cEh teman-teman, kasihan ya Adena, sekarang nilainya semakin menurun lho,\u201d kata Mita sedikit berbisik. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cIya aku tahu, padahal dulu dia sombong banget ya pas mau olimpiade wkwk. Sekarang kena batunya dia,\u201d ucap Leny membenarkan pernyataan Mita. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     Lagi-lagi aku mendengar omongan tak enak tentang diriku. Semenjak olimpiade itu aku juga berubah drastis. Aku jadi pendiam dan tidak aktif ketika pembelajaran. Sepulang sekolah, ibuku menghampiriku di kamar. Ia duduk di sampingku  dan berkata, \u201cAdena, ibu dengar nilaimu sekarang turun, apakah kamu masih memikirkan olimpiade itu?\u201d <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">      Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan ibuku. Mengapa ia tahu secepat ini perihal keadaan nilaiku sekarang ini. Apakah ada guru yang melapor pada ibuku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cMaaf Bu,  Adena memang masih teringat olimpiade itu,\u201d ucapku lirih tak berani menatap ibu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cTidak seharusnya kamu larut seperti itu, sayang sekali Adena bila nilaimu terus turun. Kamu sudah kelas 9,\u201d ucap ibu sambil membelai rambutku.  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cMaaf Bu, sebenarnya Adena juga tidak mau seperti ini terus. Tapi Adena sekarang tidak bisa fokus ke pelajaran, materi yang Adena pelajari tidak ada yang Adena pahami. Adena rasa memang bodoh,\u201d kataku jujur sambil sedikit terisak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cKamu tidak bodoh Adena, ibu harap kamu akan terus berusaha dan bersemangat dalam belajar. Kegagalan dalam olimpiade itu hal yang wajar. Masa semua harus jadi juara,\u201d lanjut ibu <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     Esoknya ibuku mengajak ku pergi. Ternyata  ibu mengajakku ke taman bunga, yang lumayan terkenal di wilayah tempat tinggalku. Di taman itu terdapat banyak jenis bunga, ada anggrek, dandelion, melati, mawar, tulip, dan masih banyak lagi. Beberapa jenis pohon besar mengelilingi menambah rindang dan sejuk taman ini.Ibu lalu mengajakku duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari kami berdiri. Ibu mengambil setangkai bunga dandelion, entah apa yang akan ia lakukan pada bunga itu. Ibu lalu memberikan bunga itu kepadaku. Aku pun menerima bunga itu sembari menatapnya kebingungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">    \u201cBunga apa ini Bu dan untuk apa Ibu berikan kepadaku?\u201d tanyaku kebingungan.  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cMasa tidak tahu?. Ini namanya bunga Dandelion. Ya kita amati bunga itu\u201d jawab ibu duduk di sebelahku.  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">    \u201cItu kan cuma bunga, memang ada apa dengan bunga ini?\u201d tanyaku sedikit kesal. Lagian ibu ada-ada aja. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">   \u201cBunga ini ada filosofinya lho,\u201d kata ibu membuatku penasaran.  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cBunga dandelion itu bentuknya kecil dan mudah terbawa angin,  bunga ini juga bisa terbang dan  terjatuh di tempat lain.\u201d Ibuku mulai menjelaskan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cNah di tempat yang baru, bunga dandelion itu masih bisa tumbuh hingga menghasilkan kehidupan baru,\u201d lanjut ibu.Mendengar penjelasan ibu, aku hanya diam membisu, otakku sedang mencoba menelaah maksud dari perkataan ibuku.  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cTerus hubungannya denganku apa, Bu?\u201d tanyaku lagi.  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cWalau bunga dandelion terbawa angin hingga terdampar di tempat baru, bunga dandelion masih bisa tumbuh kembali dengan berani,\u201d jelas ibu . <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cJadi, kamu harus belajar dari sifat bunga dandelion ini, walaupun ada masalah\/kegagalan yang kamu dapatkan, kamu harus tetap optimis dan jangan menyerah,\u201d tambah ibu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     Adena.Mendengar itu semua, aku pun merasa tersentil. Bunga saja bisa bertahan walau diterpa banyak masalah, masa aku baru kalah sekali saja sudah seperti ini. Bukankah kalah dalam sebuah olimpiade itu bukan akhir dari sebuah perjuangan. Benar juga yang ibu katakan. Hidupku masih panjang tidak seharusnya aku sedih berlarut-larut seperti ini.Aku menyesal karena kesedihanku membuat nilaiku turun, padahal tak seharusnya sampai seperti ini.  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cIbu benar, kenapa aku tak berpikir sampai situ. Maaf ya Bu gara-gara kehilangan semangat, nilaiku jadi turun,\u201d aku merasa menyesal serayamemeluk ibu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     \u201cIbu maafkan. tapi kamu harus janji ya jangan sedih sedih lagi, sayang soalnya kamu kan sudah mau lulus,\u201d kata ibu sambil membelai rambutku lagi.  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     Aku pun mengangguk, \u201cSiap Bu.\u201d  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">    \u201cBagus, karena kamu kembali bersemangat,  ibu hadiahkan bunga ini untukmu,\u201d ucap ibu  menyerahkan bunga itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">     Sesampai di rumah aku menaruh bunga Dandelion ke vas bunga dan kuletakan di atas meja belajar. Kini aku kembali menangis, tetapi bukan karena olimpiade, melainkan karena rasa bersyukurku memiliki ibu yang sangat bijaksan. Berkat ia, aku sekarang lebih semangat. Aku mencoba mencari ibu di dapur dan memeluknya erat. \u201cTerima kasih ibu dan terima kasih bunga dandelion,\u201d ucapku dalam hati.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Adena, ayo makan!. Jangan di kamar terus!\u201d teriak ibunya sembari menata piring berisi makanan di meja makan. \u201cSebentar ya Bu, aku sedang merapikan buku-buku di meja belajar ku,\u201d jawabku setengah berteriak. \u201cNanti saja, ayo makan dulu, kamu kan belum makan siang. Apa tidak lapar?\u201d paksa ibuku. \u201cIyaa Bu, sebentar yaaaaa,\u201d ucapku menurutinnya. Ibuku selalu seperti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":625,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[28],"tags":[],"class_list":["post-2897","post","type-post","status-publish","format-standard","category-karya-tulis"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lions.smktelkom-pwt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2897","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lions.smktelkom-pwt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lions.smktelkom-pwt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lions.smktelkom-pwt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/625"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lions.smktelkom-pwt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2897"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lions.smktelkom-pwt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2897\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2976,"href":"https:\/\/lions.smktelkom-pwt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2897\/revisions\/2976"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lions.smktelkom-pwt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2897"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lions.smktelkom-pwt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2897"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lions.smktelkom-pwt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2897"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}