Harapan dan Penyesalan

Aku duduk di kasur yang empuk ini sambil membayangkan hal hal yang menyenangkan yang ku harap akan terjadi, tapi pikiran ku menepis semua itu, dan merubahnya menjadi bayangan kekecewaan agar ku tau itu semua tidak akan pernah terjadi. Mengingat bahwa dulu ku pernah berharap, tapi yang terjadi hanya kekecewaan, membuatku belajar, bahwa semakin tinggi harapan, semakin besar kekecewaan yang terjadi, apalagi dengan sifat ku yang seperti ini.

Kala itu, aku sedang berada di kamar yang berisikan 10 kasur tingkat. jam menunjukan 22.34 WIB, dan lampu kamar sudah di matikan, menyisakan cahaya redup yang berada di ruang ganti kamar ku. Aku merenungi nasib di saat itu, karna aku selalu merasa payah, selalu menyerah, dan merenungi mengapa sifat malu ku ini terus menyelimuti diri ku ini.

4 bulan sebelum kenaikan kelas, aku berangkat sekolah seperti hari hari sebelumnya, sholat dhuha berjamaah, kembali ke kelas masing masing, dan banyak juga yang ke kantin dulu sebelum kembali ke kelas. Tapi di hari itu beda, aku melihatnya untuk pertama kalinya saat sedang membeli makanan di kantin.

Dia adalah adik kelas di sekolah menengah pertama ini, dan sejak saat itu, pandangan ku terhadap perempuan lain menjadi seperti biasa saja. Sejujurnya, aku memiliki perasaan terhadapnya. Aku mencari informasi mengenai dia, termasuk kelasnya, tempat tinggalnya, nama lengkapnya, dan akun Instagramnya. Meskipun begitu, aku tetap merahasiakan perasaan ini dan memilih untuk menyukainya dengan diam, karena aku terlalu malu untuk memulai percakapan atau berkenalan, dan berfikir apakah dia pantas untuk ku.

Hingga naik kelas, aku masih tetap malu untuk berkenalan. Dan benar saja, menyukai dalam diam itu harus siap dengan yang namanya “Kecewa”, setelah sekian lama menyukainya dalam diam, aku harus menerima bahwa dia sudah dengan yang lain. Saat itu ku melihat dia surat-suratan dengan adik kelas (laki laki) menggunakan kertas yang di lipat di dekat kelasnya.

Sedikit kecewa untuk ku, karna mempunyai sifat pemalu kepada perempuan ini, yang mengharuskan ku untuk tetap diam, tapi di sisi lain ku mengingat bahwa ada yang lebih penting dari pada “perempuan”, ku masih memikirkan agar bisa membahagiakan kedua orang tua ku, aku harus memikirkan masa depan ku, dan lain lainnya yang terus menghantui pikiran ku.

Akhirnya , aku pun tidak ingin berharap lebih kepada apapun dan menyesali mengapa aku mempunyai sifat pemalu seperti ini. Bahkan, hingga saat ini aku terus berusaha untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal terkait dengan “perempuan”. Meski begitu, di sisi lain, aku juga ingin merasakan momen-momen yang menggemaskan, lucu, dan lainnya. Meskipun aku berusaha untuk bersikap lebih terbuka, sifat malu ini sulit untuk hilang.