Budaya Kita

Siang itu, cahaya mentari menyapu permukaan bumi yang membuat gerah hati dan pikiran Tamam yang sedang berjalan keluar pekarangan sekolah. Ditambah lagi, tugas yang semakin menumpuk dan memenuhi volume otaknya. “Kenapa gw harus bergelut dengan tugas, tugas, dan tugas ? Mana, gw belum ngerjain tugas kesenian individual. Ribet banget mesti belajar budaya temen temen yang beda daerah, padahal kan budayanya nggak banget!! hhhh” celotehnya dalam hati. Tamam memang salah satu murid yang paling malas jika membahas budaya, pikirannya seperti sudah tercuci oleh budaya Barat yang menurutnya lebih gaul dari budaya tradisional

*Brukk*.

Tanpa sengaja Tamam menabrak gadis berkacamata yang penampilannya sederhana, menggenakan sepatu full hitam dan seragam OSIS SMA yang sengaja dibuat longgar agar dirinya nyaman bergerak, dengan bordir nama yang bertuliskan “Putri”. Sangat berbeda dengan style kebanyakan siswa di sekolah itu yang sengaja mengikuti trend mempermak baju menjadi ketat. “Kalau jalan pake mata, dong!” bentak Tamam. “Astaghfirullah, dimana-mana yang salah yang minta maaf, bukannya marah-marah nggak jelas kaya gini. Sekarang lihat, lembar-lembar laporan tugas kesenianku rusak, sekarang aku harus mengulang lagi dari awal gara gara kamu.” protes Putri. “Terus, apa yang lo mau ? Lo mau gw ganti rugi ?, Finee, berapa sih biaya copas dan print outnya? Segini harusnya cukuplah !!” Tamam menyodorkan uang Rp.50.000,00 yang membuat emosi Putri menjadi-jadi.

“Heh, kamu pikir aku seperti kamu ?, laporanku ini murni hasil dari pengamatan budaya yang aku pelajari sendiri. Dan kamu pikir dengan uang semua masalah jadi selesai ?, ENGGA !! Aku mau kamu bantu aku kerjain ulang laporan ini sampai selesai, kalau nggak aku bakal laporin kejadian ini ke Bagian Kesiswaan !!” jelas Putri dengan jengkel dan heran. “Ingat! Besok setelah pulang sekolah, aku tunggu kamu di Perpus, awas kalau nggak datang, aku nggak main-main dengan ancamanku ! Satu lagi, dimana-mana itu manusia jalan pake kaki bukan mata !” tegas Putri. Tamam memang termasuk daftar anak yang nakal, namu dia tetap anak normal yang takut akan sanksi yang mudah membuatnya keluar dari sekolah itu. Apalagi Tamam sudah kerap melakukan pelanggaran selama kelas sepuluh ini, Tamam tak berkutik ketika Putri membawa-bawa nama Kesiswaan, mau tak mau ia harus memenuhi apa kemauan gadis itu.

Keesokan harinya, setelah bel pulang sekolah berdentum, Tamam dengan berat melangkahkan kakinya menuju Perpus yang termasuk jauh dari kelasnya. Sesampainya di depan Perpus, Tamam segera masuk dan menghela napas rileks, ini pertama kalinya Tamam masuk ke dalam Perpustakaan. Menurutnya Perpus adalah tempat bagi orang-orang yang tidak asyik dan sering dikenal dengan istilah kutu buku. “Akhirnya datang juga, ku kira orang seperti kamu tidak tau cara untuk menepati janji dan bertangggung jawab.” sindir Putri. “Sudah, ngga perlu banyak ngomong, kerjain itu tugas, gw ngga mau lama-lama disini, nanti ketularan udik.” sangga Tamam melirik tajam Putri. Putri mulai menjelaskan apa yang harus dikerjakan Tamam. Penjelasan Putri tak tersangkut dalam memori otaknya, Tamam segera bangkit dan mengomel protes.

“Apa untungnya si belajar budaya daerah, udah kampungan, nggak ada seru serunya, yang cuma itu-itu aja , beda sama nonton konser jauh lebih menarik dan seru.” singgung Tamam. “Asal kamu tau ya, budaya negara kita itu sangat memukau. Buktinya banyak budaya Indonesia yang sudah tampil di luar negeri, bahkan orang luar negeri juga banyak yang ikut melestarikan budaya Indonesia. Selain itu dalam lomba kebudayaan Internasional, Indonesia juga tak pernah absen untuk membawa piala ataupun medali. Hal ini membuktikan betapa besarnya apresiasi dari bangsa luar untuk Indonesia. Jadi, untuk apa mengagung-agungkan budaya Barat yang entah apa maknanya. Jangan cuma karena mengikuti trend yang lagi booming agar kita dibilang gaul,eksis dan keren, budaya tradisional juga bisa menjadi gaul kalau semua generasi kita mau bersatu dan melestarikan budaya-budaya yang ada.” Jelas Putri.

“Kalo lo mau didengerin sama orang ngaca dong! Terserah lo kalo mau muji budaya tradisional, its finee, tapi dari tadi lo aja rendahin budaya negara orang, jadi apa bedanya perilaku lo sama perilaku gw, hah ??” jawab Tamam dengan suara penuh keyakinan. Putri pun sadar akan kesalahannya, “Maaf ya, aku nggak nyadar kalo dari tadi aku ngehina budaya luar. Benar juga katamu, kalau kita meninggikan budaya kita dengan merendahkan merendahkan budaya lain, apa gunanya ?” dengan muka penuh penyesalan Putri meminta maaf kepada Tamam.

“Tapi, ada benernya juga yang lo bilang, memang selama ini gw ga pernah mau peduli budaya sekitar, bahkan merendahkan budaya negara gw sendiri, gw terlalu asik sama budaya gaul yang lagi booming saat ini di media sosial. Gw rasa dengan ngerjain tugas ini gw bakal lebih paham budaya kita, dan jujur dengan penjelasan lo tadi soal pandangan orang tentang budaya kita dalam dunia internasional dan prestasinya, gw jadi tertarik nii. Bahkan gw pengen buat vidio tentang Budaya Indonesia biar kaya Pesona Indonesia gituu, kalo Pesona Indonesia tentang keindahan alam gw pengen bikin versi budayanya,dan mengunggahnya di kanal Youtube ku agar semua dunia tahu bahwasannya Indonesia memiliki budaya yang sangat beragam dan menarik.” jelas Tamam dengan semangat. “Baguss,” jawab Putri dengan tersenyum sambil mengerjakan tugas mereka.

Sejak saat itu, Tamam tidak lagi meremehkan budaya tradisional, bahkan sekarang ia dijuluki “SI PALING CINTA BUDAYA di sekolah. Tamam mulai sering dan tertarik untuk menghadiri acara pagelaran budaya dan menjadi pelopor diadakannya festival budaya di sekolahnya. Tamam benar-benar menjadi jatuh hati terhadap keindahan budaya tradisional Indonesia sejak saat itu.

– Selesai –