Di suatu sekolah, ada seorang anak laki-laki dan perempuan yang masih menginjakkan usianya di usia 8 tahun. Mereka sudah dekat semenjak memasuki dunia pendidikan atau semenjak mereka masih TK. Sekarang mereka menempati jenjang pendidikan kelas 3 SD, dan bersekolah di SD Pelita Jaya. Queen, nama yang cantik seperti parasnya. Dan Rey, anak pemberani dan memiliki jiwa kepemimpinan seperti namanya yang berarti raja.
Pada saat jam istirahat, mereka duduk bersama di depan kelas. Saling menatap dan mengukir senyuman. Kata-kata romantis pun keluar dari mulut mereka berdua. Wajah merah yang tertera menunjukkan adanya rasa salah tingkah. Saling mencubit pipi menunjukkan rasa gemas. Tak menghiraukan usia mereka yang masih dini.
Jam pulang tiba. Rey dan Queen duduk bersama di gazebo sekolah sembari menunggu jemputan. Rey melihat kaki Queen yang sedang berayun karena tidak menggapai tanah. “Queen pendek, hihi,” ejek Rey. Queen hanya membuang muka tanpa mengeluarkan kata. Queen bergeser dari duduknya dan menjauhi Rey. Rey pun tau apa yang harus ia lakukan. “Cup cup cup, jangan ngambek kan emang fakta,” jawab Rey meledek sambil memainkan pipi Queen yang bulat. “DIEM!” tegas Queen tak terima dirinya diledek. “Udah, Queen. Udah marahnya. Besok aku beliin es krim,” tawar Rey membujuk agar Queen tak marah lagi. “Janji, ya?!” tanya Queen dengan riang. “Iya, Queen cantik,” Rey menerima janji.
Keesokan harinya, perasaan Rey sangat cemas. Ia tidak melihat anak perempuan yang paling cantik di matanya. Waktu menunjukkan pukul 07.10, namun Queen belum saja terlihat di kelas. Bu Ratna selaku wali kelas masuk ke dalam kelas untuk mengabsen muridnya. Setelah mengabsen, Rey heran karena nama Queen tidak disebut oleh Bu Ratna. “Anak-anak, ibu ada berita sedih. Teman kalian, Queen, tidak berangkat dikarenakan jatuh dari tangga di rumahnya. Sekarang ia sedang dirawat di rumah sakit. Jadi, Ibu mohon doanya supaya Queen Kembali pulih dan bisa berkumpul dengan kalian lagi,” kabar dari Bu Ratna yang membuat perasaan Rey menjadi hancur lebur.
Sepulangnya dari sekolah, Rey bergegas ke rumah sakit bersama ibunya. Ia melihat Queen yang sedang berbaring lemas tak berdaya. Perasaannya semakin kacau, takut akan kenapa-napa. “Aku takut,” lirih Rey kepada Queen. “Rey jangan takut, ya. Aku ga kenapa-napa, kok,” bujuk Queen supaya Rey tidak ketakutan lagi. Senyuman Rey terukir, tandanya bujukan Queen berhasil. “Nyah, es krim buat Queen!” Rey menepati janjinya. “Yeay. Makasi, Rey!” seru Queen kegirangan.
***
Kini usia mereka menginjak masa remaja. Sekarang mereka menginjakkan jenjang pendidikannya di jenjang SMA. Akan tetapi, masih dengan perasaan yang sama. Rasa sayang dan nyaman semakin kuat. Dan semakin yakin bahwa mereka adalah takdir.
Di suatu pagi, apel diadakan. Rey baris di barisan paling belakang dan menjadi kesempatannya untuk bercanda dengan teman di dekatnya. Salah satu guru yang juga merupakan salah satu anggota tim kedisiplinan melihat Rey tidak hikmat dalam mengikuti apel. Ia pun ditarik mundur dari barisan bersama teman-temannya. Selesainya apel pagi, Rey dijemur di Tengah lapangan sebagai hukuman yang diterimanya. “Nyah,” kedatangan Queen secara tiba-tiba sembari menjulurkan tangannya yang sedang memegang sebotol air mineral. “Thanks,” jawabnya singkat. “Makanya jangan berisik!” tegas Queen. Rey hanya memutar bola matanya malas. “Bye, mau ngadem dulu,” ledekan Queen yang hendak masuk ke dalam kelas. Rey hanya diam dan cuek, menandakan dia kesal dengan perilaku ratunya.
Sepulangnya sekolah, mereka menikmati indahnya langit Jakarta. Berboncengan diikuti pelukan hangat dari belakang. “Rey bawa aku ke mana?” tanya Queen karena tak tahu jalan. “Dah, diem!” perintah Rey yang membuat ratunya kesal. Seketika mata Queen membulat. “Bagus banget!” kalimat kagum Queen melihat tempat yang begitu indah. “Cantik, kan?” tanya Rey kepada Queen. “Cantik!” seru Queen kegirangan. “Iya, lah. Ngga kea kamu. Wle,” ledek Rey membuat Queen kesal.
***
Kini mereka sudah dewasa. Jarak mereka terpisahkan karena pendidikan. Jarang adanya komunikasi, baik langsung maupun tidak. Mungkin cinta mereka akan pudar. Tetapi Rey yakin dan masih menaruh harapan. Berharap cinta mereka akan seperti dulu lagi, mungkinkah?
4 Tahun berlalu. Tidak adanya kabar yang Rey dengar dari seseorang yang masih dia sayang. Berharap keajaiban akan datang. Harapan masih ia simpan. Entah sampai kapan ia akan terus-terusan menahan rasa sakit. Haruskah ia melepas perasaan itu?
“Aduh!” suara anak kecil yang terdengar oleh telinga Rey. Rey bergegas menghampiri anak perempuan tersebut dan membantunya yang baru saja terjatuh. “Hati-hati, ya,” titah Rey sembari mengangkatnya bangun. “Makasi ya, Om,” ucap manis si anak. Rey hanya tersenyum mengangguk. Anak itu pergi, dan perasaan Rey tiba-tiba menjadi aneh setelah melihat bola mata anak kecil tersebut yang mirip dengan seseorang yang mugkin ia kenal. Rey melihat anak itu lari menghampiri orang tuanya. Badannya menjadi lemas setelah melihat perempuan yang ia lihat bersama laki-laki lain adalah orang yang ia sayang.
Leave a Reply